Cari Blog Ini

Minggu, 01 November 2009

ISLAM, GEMPA, DAN ANGKA-ANGKA

Kita sudah ketahui bahwa Islam merupakan agama yang sempurna dan ‘meminta’ para pemeluknya agar LEBIH BANYAK mengedepankan AKAL daripada sesuatu yang tidak jelas juntrungannya. Akan tetapi, pada kenyataannya, seringkali para pemeluknya, bahkan yang mengaku dirinya berakal dan mengerti ttg Islam, justru membuat Islam menjadi ‘norak’.

Saya ambil contoh adalah keterkaitan antara Islam dan angka-angka (yang lazimnya disebut numerologi).

Sekitar 2-3 tahun lalu, saya sempat membaca artikel yang mengaitkan Islam dengan angka 19. Inti dari artikel yang saya baca itu, angka 19 merupakan ‘pondasi’ dari banyak hal di Islam, karena banyak hal di Al Qur’an ternyata berhubungan dengan angka 19.

Terus terang, saya tertawa saja membaca penjelasan si penulis itu. Banyak hal yang terasa dipaksakan agar memenuhi keinginan si penulis, bahwa 19 selalu ada di Al Qur’an.

Sejenak, saya teringat dengan ilmu guthak gathuk di Jawa *tolong koreksinya jika salah*. Ilmu guthak gathuk ini biasanya digunakan untuk ‘menghubung-hubungkan’ sesuatu dengan angka. Yaa…mirip dengan yang dilakukan si penulis angka 19 itu lah. Biasanya ilmu guthak gathuk ini banyak dipraktikkan oleh para pejudi atau paranormal. Berbagai cara mereka lakukan agar ilmu ini bisa diterapkan dan dipercaya oleh orang-orang sekitarnya.

Nah, terkait dengan hal ini, saya jadi teringat dengan peristiwa yang baru terjadi, yakni gempa bumi di Padang.

Tidak berselang lama dari kejadian gempa di Padang, alamat email dan yahoo messenger saya dipenuhi dengan berita-berita yang mengait-ngaitkan gempa di Padang dengan ayat Al Qur’an.

Berikut kutipannya :

“Gempa di Padang jam 17.16, gempa susulan 17.58, esoknya gempa di Jambi jam 8.52. Coba lihat Al-Qur’an!” demikian bunyi pesan singkat yang beredar. Siapa pun yang membuka Al-Qur’an dengan tuntunan pesan singkat tersebut akan merasa kecil di hadapan Allah Swt. Demikian ayat-ayat Allah Swt tersebut:

17.16 (QS. Al Israa’ ayat 16): “Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.”

17.58 (QS. Al Israa’ ayat 58): “Tak ada suatu negeri pun (yang durhaka penduduknya), melainkan Kami membinasakannya sebelum hari kiamat atau Kami azab (penduduknya) dengan azab yang sangat keras. Yang demikian itu telah tertulis di dalam kitab (Lauh Mahfuz).”

8.52 (QS. Al Anfaal: 52): (Keadaan mereka) serupa dengan keadaan Fir’aun dan pengikut-pengikutnya serta orang-orang sebelumnya. Mereka mengingkari ayat-ayat Allah, maka Allah menyiksa mereka disebabkan disebabkan dosa-dosanya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Amat Keras siksaan-Nya.”

Sejenak saya merasa dejavu, sebelum akhirnya saya tertawa.
Jika hendak konsisten, mestinya si penulis ini juga menyertakan bencana-bencana gempa lain yang terjadi di Indonesia dengan ayat-ayat Al Qur’an seperti yg dia lakukan pada bencana di Padang ini. Padahal, jika diperhatikan rincian bencana-bencana gempa lain tidaklah selalu berhubungan dengan ayat-ayat Al Qur’an mengenai kemurkaan ALLOH SWT ataupun bencana.

Apa buktinya?

Jika merujuk ke situs BMG, anda akan bisa temukan banyak gempa yang terjadi di Indonesia. Silakan cek setiap bencana gempa, katakanlah yang skalanya cukup besar, di atas 6, dengan ayat Al Qur’an, maka akan kita ketahui bahwa tidak semua gempa berhubungan dengan ayat Al Qur’an.

Saya juga sempat membaca di beberapa situs bahwa ‘tidak nyambungnya’ gempa dan Al Qur’an bisa terlihat pada gempa di Aceh (2004) dan di Yogya (2006).
Dari hasil pencarian, gempa dan tsunami di Aceh terjadi pada 26 Desember 2004 pada pukul 7:58. Jika melihat Al Qur’an (7:58), maka akan didapat bunyi ayat sebagai berikut:

“Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan seizin Allah; dan tanah yang tidak subur, tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana. Demikianlah Kami mengulangi tanda-tanda kebesaran (Kami) bagi orang-orang yang bersyukur.”
Sementara itu gempa di Yogya 27 Mei 2006 terjadi jam 05.55 pagi. Kita cek Al Qur’an (5:55), maka didapat ayat:

“Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan salat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah).”
Lagipula, saya kok yakin karena Al Qur’an merupakan petunjuk bagi SEMUA UMAT MANUSIA, maka ayat-ayatnya TIDAK BOLEH diartikan/diterjemahkan/ditafsirkan sesuai keinginan suatu masyarakat/negara. Dengan kata lain, jika hendak mencocokkan gempa dengan Al Qur’an, maka ‘mestinya’ masyarakat Jepang yg berhak mengatakan bahwa Al Qur’an ‘cocok’ dengan kondisi negara mereka karena begitu seringnya terjadi dan terkena gempa. Toh, tetap saja bahwa MENCOCOKKAN (WAKTU KEJADIAN) GEMPA DENGAN AL QUR’AN adalah perbuatan orang2 (maaf) bodoh dan tidak mengerti!

Justru sebagai umat Islam yang diminta menggunakan akal dan nalar (logika), umat Islam mesti BISA MEMBACA AYAT TERSIRAT, dalam hal ini gempa. Umat Islam mestinya bisa menguasai ilmu gempa, termasuk cara penanggulangannya, lalu cara membuat bangunan tahan gempa. Itu akan memperlihatkan bahwa Islam benar2 agama yg menggunakan nalar dan logika. Bukan dengan cara menghubung-hubungkan gempa dengan ayat lalu menyebarkannya, yang malah akan membuat kegelisahan di kalangan masyarakat.
Umat Islam hendaknya menggunakan angka-angka sebagai sarana untuk menjabarkan dan membuktikan kerasionalan Islam, bukan malah sebaliknya, membuat Islam “nampak bodoh” dengan memaksakan angka-angka dengan ayat Al Qur’an.

Semoga berguna.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar