Cari Blog Ini

Selasa, 04 Mei 2010

Eutrofikasi

Eutrofikasi merupakan problem lingkungan hidup yang diakibatkan oleh limbah fosfat (PO3-), khususnya dalam ekosistem air tawar. Definisi dasarnya adalah pencemaran air yang disebabkan oleh munculnya nutrient yang berlebihan ke dalam ekosistem air. Air dikatakan eutrofik jika konsentrasi total phosphorus (TP) dalam air berada dalam rentang 35-100 µg/L.

Sejatinya, eutrofikasi merupakan sebuah proses alamiah di mana danau mengalami penuaan secara bertahap dan menjadi lebih produktif bagi tumbuhnya biomassa. Diperlukan proses ribuan tahun untuk sampai pada kondisi eutrofik. Proses alamiah ini, oleh manusia dengan segala aktivitas modernnya, secara tidak disadari dipercepat menjadi dalam hitungan beberapa dekade atau bahkan beberapa tahun saja. Maka tidaklah mengherankan jika eutrofikasi menjadi masalah di hampir ribuan danau di muka Bumi, sebagaimana dikenal lewat fenomena algal bloom.

Akibat eutrofikasi

Kondisi eutrofik sangat memungkinkan alga, tumbuhan air berukuran mikro, untuk tumbuh berkembang biak dengan pesat (blooming) akibat ketersediaan fosfat yang berlebihan serta kondisi lain yang memadai. Hal ini bisa dikenali dengan warna air yang menjadi kehijauan, berbau tak sedap, dan kekeruhannya yang menjadi semakin meningkat. Banyaknya eceng gondok yang bertebaran di rawa-rawa dan danau-danau juga disebabkan fosfat yang sangat berlebihan ini. Akibatnya, kualitas air di banyak ekosistem air menjadi sangat menurun. Rendahnya konsentrasi oksigen terlarut, bahkan sampai batas nol, menyebabkan makhluk hidup air seperti ikan dan spesies lainnya tidak bisa tumbuh dengan baik sehingga akhirnya mati. Hilangnya ikan dan hewan lainnya dalam mata rantai ekosistem air menyebabkan terganggunya keseimbangan ekosistem air. Permasalahan lainnya, cyanobacteria (blue-green algae) diketahui mengandung toksin sehingga membawa risiko kesehatan bagi manusia dan hewan. Algal bloom juga menyebabkan hilangnya nilai konservasi, estetika, rekreasional, dan pariwisata sehingga dibutuhkan biaya sosial dan ekonomi yang tidak sedikit untuk mengatasinya.

Sejarah pengetahuan tentang eutrofikasi

Problem eutrofikasi baru disadari pada dekade awal abad ke-20 saat alga banyak tumbuh di danau-danau dan ekosistem air lainnya. Problem ini disinyalir akibat langsung dari aliran limbah domestik. Hingga saat itu belum diketahui secara pasti unsur kimiawi yang sesungguhnya berperan besar dalam munculnya eutrofikasi ini.

Melalui penelitian jangka panjang pada berbagai danau kecil dan besar, para peneliti akhirnya bisa menyimpulkan bahwa fosfor merupakan elemen kunci di antara nutrient utama tanaman (karbon (C), nitrogen (N), dan fosfor (P)) di dalam proses eutrofikasi.

Sebuah percobaan berskala besar yang pernah dilakukan pada tahun 1968 terhadap Danau Erie (ELA Lake 226) di Amerika Serikat membuktikan bahwa bagian danau yang hanya ditambahkan karbon dan nitrogen tidak mengalami fenomena algal bloom selama delapan tahun pengamatan. Sebaliknya, bagian danau lainnya yang ditambahkan fosfor (dalam bentuk senyawa fosfat)-di samping karbon dan nitrogen-terbukti nyata mengalami algal bloom.

Menyadari bahwa senyawa fosfatlah yang menjadi penyebab terjadinya eutrofikasi, maka perhatian para saintis dan kelompok masyarakat pencinta lingkungan hidup semakin meningkat terhadap permasalahan ini. Ada kelompok yang condong memilih cara-cara penanggulangan melalui pengolahan limbah cair yang mengandung fosfat, seperti detergen dan limbah manusia, ada juga kelompok yang secara tegas melarang keberadaan fosfor dalam detergen. Program miliaran dollar pernah dicanangkan lewat institusi St Lawrence Great Lakes Basin di AS untuk mengontrol keberadaan fosfat dalam ekosistem air. Sebagai implementasinya, lahirlah peraturan perundangan yang mengatur pembatasan penggunaan fosfat, pembuangan limbah fosfat dari rumah tangga dan permukiman. Upaya untuk menyubstitusi pemakaian fosfat dalam detergen juga menjadi bagian dari program tersebut.


Asal fosfat

Menurut Morse et al, 10 persen berasal dari proses alamiah di lingkungan air itu sendiri (background source), 7 persen dari industri, 11 persen dari detergen, 17 persen dari pupuk pertanian, 23 persen dari limbah manusia, dan yang terbesar, 32 persen, dari limbah peternakan. Paparan statistik di atas (meskipun tidak persis mewakili data di Tanah Air) menunjukkan bagaimana berbagai aktivitas masyarakat di era modern dan semakin besarnya jumlah populasi manusia menjadi penyumbang yang sangat besar bagi lepasnya fosfor ke lingkungan air.

Mengacu pada buku Phosphorus Chemistry in Everyday Living, manusia memang berperan besar sebagai penyumbang limbah fosfat. Secara fisiologis, jumlah fosfat yang dikeluarkan manusia sebanding dengan jumlah yang dikonsumsinya. Tahun 1987 saja rata-rata orang di AS mengonsumsi dan mengekskresi sejumlah 1,4 lb (pounds) fosfat per tahun. Bersandar pada data ini, dengan sekitar 290 juta jiwa populasi penduduk AS saat ini, maka sekitar 406 juta pounds fosfor dikeluarkan manusia AS setiap tahunnya.

Lantas, berapa jumlah fosfor yang dilepaskan oleh penduduk bumi sekarang yang sudah mencapai sekitar 6,3 miliar jiwa? Jika dihitung, akan menghasilkan sebuah angka yang sangat fantastis! Ini belum termasuk fosfat yang terkandung dalam detergen yang banyak digunakan masyarakat sehari-hari dan sumber lainnya seperti disebut di atas.

Tanpa pengelolaan limbah domestik yang baik, seperti yang terjadi di negara-negara dunia ketiga, tentu bisa dibayangkan apa dampaknya terhadap lingkungan hidup, khususnya ekosistem air.

Berapa sebenarnya jumlah fosfor (P) yang diperlukan oleh blue-green algae (makhluk hidup air penyebab algal bloom) untuk tumbuh? Ternyata hanya dengan konsentrasi 10 part per billion (ppb/sepersatu miliar bagian) fosfor saja blue-green algae sudah bisa tumbuh. Tidak heran kalau algal bloom terjadi di banyak ekosistem air. Dalam tempo 24 jam saja populasi alga bisa berkembang dua kali lipat dengan jumlah ketersediaan fosfor yang berlebihan akibat limbah fosfat di atas.

Tentu saja limbah fosfat yang lepas ke lingkungan air akan mengalami pengenceran di sungai-sungai, di samping sebelumnya telah melewati pula tahap pengolahan limbah domestik. Yang disebut terakhir secara ketat hanya berlaku di negara maju seperti AS dan Eropa. Berdasarkan ini pun, ternyata masih akan tersisa sejumlah 12-31 ppb fosfor yang notabene lebih dari cukup bagi tumbuhnya blue-green algae. Bisa diperkirakan (sebelum akhirnya dibuktikan) kandungan fosfat di banyak aliran sungai dan danau di Indonesia, khususnya di kota-kota besar, akan jauh lebih tinggi dari angka yang disebutkan di atas. Dari sini kita bisa mengetahui betapa seriusnya persoalan yang diakibatkan oleh limbah fosfat ini

Penanganan eutrofikasi

Dewasa ini persoalan eutrofikasi tidak hanya dikaji secara lokal dan temporal, tetapi juga menjadi persoalan global yang rumit untuk diatasi sehingga menuntut perhatian serius banyak pihak secara terus-menerus. Eutrofikasi merupakan contoh kasus dari problem yang menuntut pendekatan lintas disiplin ilmu dan lintas sektoral.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan penanggulangan terhadap problem ini sulit membuahkan hasil yang memuaskan. Faktor-faktor tersebut adalah aktivitas peternakan yang intensif dan hemat lahan, konsumsi bahan kimiawi yang mengandung unsur fosfat yang berlebihan, pertumbuhan penduduk Bumi yang semakin cepat, urbanisasi yang semakin tinggi, dan lepasnya senyawa kimia fosfat yang telah lama terakumulasi dalam sedimen menuju badan air.

Lalu apa solusi yang mungkin diambil? Menurut Forsberg, yang utama adalah dibutuhkan kebijakan yang kuat untuk mengontrol pertumbuhan penduduk (birth control). Karena apa? Karena sejalan dengan populasi warga Bumi yang terus meningkat, berarti akan meningkat pula kontribusi bagi lepasnya fosfat ke lingkungan air dari sumber-sumber yang disebutkan di atas. Pemerintah juga harus mendorong para pengusaha agar produk detergen tidak lagi mengandung fosfat. Begitu pula produk makanan dan minuman diusahakan juga tidak mengandung bahan aditif fosfat. Di samping itu, dituntut pula peran pemerintah di sektor pertanian agar penggunaan pupuk fosfat tidak berlebihan, serta perannya dalam pengelolaan sektor peternakan yang bisa mencegah lebih banyaknya lagi fosfat lepas ke lingkungan air. Bagi masyarakat dianjurkan untuk tidak berlebihan mengonsumsi makanan dan minuman yang mengandung aditif fosfat.

Di negara-negara maju masyarakat yang sudah memiliki kesadaran lingkungan (green consumers) hanya membeli produk kebutuhan rumah sehari-hari yang mencantumkan label "phosphate free" atau "environmentally friendly".

Negara-negara maju telah menjadikan problem eutrofikasi sebagai agenda lingkungan hidup yang harus ditangani secara serius. Sebagai contoh, Australia sudah mempunyai program yang disebut The National Eutrophication Management Program, yang didirikan untuk mengoordinasi, mendanai, dan menyosialisasi aktivitas riset mengenai masalah ini. AS memiliki organisasi seperti North American Lake Management Society yang menaruh perhatian besar terhadap kelestarian danau melalui aktivitas sains, manajemen, edukasi, dan advokasi.

Selain itu, mereka masih mempunyai American Society of Limnology and Oceanography yang menaruh bidang kajian pada aquatic sciences dengan tujuan menerapkan hasil pengetahuan di bidang ini untuk mengidentifikasi dan mencari solusi permasalahan yang diakibatkan oleh hubungan antara manusia dengan lingkungan.

Negara-negara di kawasan Eropa juga memiliki komite khusus dengan nama Scientific Committee on Phosphates in Europe yang memberlakukan The Urban Waste Water Treatment Directive 91/271 yang berfungsi untuk menangani problem fosfat dari limbah cair dan cara penanggulangannya. Mereka juga memiliki jurnal ilmiah European Water Pollution Control, di samping Environmental Protection Agency (EPA) yang memberlakukan peraturan dan pengawasan ketat terhadap pencemaran lingkungan.


PENGARUH KEPADATAN POPULASI MANUSIA TERHADAP LINGKUNGAN

I. PERTUMBUHAN POPULASI PENDUDUK DI INDONESIA

Berdasrkan data populasi penduduk tahun 2001 jumlah penduduk Indonesia sekitar 206,1 jiwa, menepati urutan ke-4 di dunia.

No.

Negara

Jumlah Penduduk

1.

Republik Rakyat China (RRC)

1.276,3

2.

India

1.003,0

3.

Amerika Serikat

284,5

4.

Indonesia

206,1

5.

Brazil

171,8

6.

Pakistan

145,0

7.

Rusia

144,4

8.

Bangladesh

133,5

9.

Jepang

127,1

10.

Nigeria

126,6

Bila pertumbuhan populasi 2,3% pertahun, dapat diprediksi bahwa tahun 2010, maka penduduk Indonesia akan berjumlah 300 juta jiwa.

II. DINAMIKA PENDUDUK

Beberapa istilah kependudukan

Demografi adalah ilmu yang mempelajari segagla sesuatu tentang aspek kependudukan.

Penduduk adalah seseorang/sekelompok orang yang tinggal dan menepati suatu wilayah tertentu pada waktu tertentu.

Penduduk dari waktu ke waktu akan mengalami perubahan (fluktuasi pertumbuhan). Fluktuasi ini dikenal sebagai DinamikaPenduduk.

Dinamika Penduduk adalah perubahan penduduk pada suatu negara dari waktu ke waktu.

Masalah utama kependudukan di Indonesia adalah masalah penyebaran penduduk yang tidak merata.

III. PENYEBAB PERUBAHAN POPULASI PENDUDUK

Untuk menghitung angka perubahan populasi penduduk pertahun (AP) yang ditunjukan dengan persentase (%) digunakan rumus :

AP (%) = AK - AM x 100%

1000

Keterangan :

AK = Angka Kelahiran

AM = Angka Kemattian

Untuk menghitung angka pertumbuhan populasi penduduk digunakan rumus :

P = ( L – m) + ( I – e )

P = Pertumbuhan populasi penduduk

L = Jumlah lahir/kelahiran

M = Jumlah mati/kematian

I = Jumlah Imigrasi

E = Jumlah emigrasi

Perubahan populasi penduduk disebabkan oleh 3 faktor, yaitu:

1. Natalitas atau kelahiran adalah bilangan yang menunjukan jumlah kelahiran hidup setiap 1000 penduduk per tahun. Untuk menghitun angka natalitas digunakan rumus :

Natalitas = Jumlah bayi lahir yang hidup x 1000

Jumlah populasi manusia

Kriteria angka kelahiran:

a. Angka kelahiran tinggi, bila lebih dari 30 orang per 1000 kelahiran

b. Angka kelahiran sedang, bila berkisar 20 – 30

c. Angka kelahiran rendah, bila kurang dari 20

Tinggi-rendahnya kelahiran, tergantung:

1) Struktur Umur

2) Banyaknya perkawinan

3) Penggunaan alat kontrasepsi

4) Pengguguran

5) Tingkat Pendidikan

6) Status pekerjaan wanita (strata ekonomi)

2. Mortalitas atau angka kematian adalah bilangan yang menunjukan jumlah angka kematian dari tiap 1000 penduduk pertahun. Untuk menentkan besarnya angka mortalitas dapat dihitung dengan rumus :

Mortalitas = Jumlah kematian x 1000

Jumlah Populasi Penduduk

Kriteria angka kematian:

a. Angka kematian tinggi, bila lebih dari 18 orang per 1000 kelahiran

b. Angka kematian sedang, bila berkisar 14 - 18

c. Angka kemtian rendah, bila kurang dari 14

Tinggi-rendahnya kematian, tergantung:

1. Struktur Umur

2. Jenis kelamin

3. Jenis pekerjaan

4. Status sosial ekonomi

5. Keadaan lingkungan

3. Migrasi adalah perpindahan penduduk dari suatu daerah atau negara ke daerah atau negara lain.

Secara umum migrasi/perpindahan ada dua, yaitu:

a. Perpindahan keluar (out migration/emigrasi)

b. Perpindahan kedalam (in migration/imigras

Angka migrasi masuk adalah angka yang menunjukan banyaknya imigran yang masuk per 1000 penduduk daerah tujuan dalam 1 tahun.

bentuk :

1. Transmigrasi : Perpindahan penduduk dari daerah yang padat ke daerah yang kurang padat

2. Urbanisasi : Perpindahan penduduk dari desa ke kota.

Migrasi dapat dibedakan ke dalam beberapa jenis :

A. Transmigrasi (perpindahan dari satu daerah (pulau) untuk menetap ke daerah lain di dalam wilayah Republik Indonesia).

B. Urbanisasi (perpindahan penduduk dari desa ke kota besar)

Sebab-sebab terjadinya urbanisasi:

a. Ketersediaan lapangan pekerjaan dikota lebih besar.

b. Tingginya upah/penghasilan di kota.

c. Daya tarik kota dengan sarana dan prasarana kehidupan lebih lengkap.

d. Kepedulian masyarakat terhadap pengolahan SDA di desa menurun.

e. Kondisi kualitas tanah dan SDA desa sulit untuk digarap dan dikembangkan (gersang).

C. Ruralisasi (perpindahan penduduk dari kota ke desa)

Sebab-sebab terjadinya ruralisasi :

a. Pekerja yang memasuki masa pensiun.

b. Harga tanah di desa relatif lebih murah dibanding kota untuk pertanian.

c. Mencari lingkungan sosial yang lebih nyaman dan kondusif terbebas dari polusi.

D. Emigrasi (perpindahan penduduk dari dalam negeri kemudian menetap di luar negeri). Orangnya disebut sebagai Emigran.

Sebab-sebab terjadinya Emigrasi :

a. Tugas belajar.

b. Tugas kedinasan atau jabatan.

c. Ekspansi bisnis dan investasi.

d. Kondisi sosial, politik dan ekonomi serta hukum Negara asal yang mengancam kehidupannya.

E. Imigrasi (perpindahan penduduk dari luar negeri kemudian menetap di dalam negeri). Orangnya disebut Imigran.

Sebab-sebab terjadinya Imigrasi :

a. Tugas belajar.

b. Tugas kedinasan atau jabatan.

c. Ekspansi bisnis dan investasi.

d. Kondisi sosial, politik dan ekonomi serta hukum Negara asal yang mengancam kehidupannya.

e. Reemigrasi (Kembali ke tempat asal)

a. Penyebab ledakan jumlah populasi penduduk :

1) angka kelahiran tinggi

2) angka kematian rendah

3) ekonomi yang teratur dan meningkat

4) membaiknya kesehatan masyarakat

5) tingkat pendidikan penduduk yang masih rendah

b. Dampak dari ledakan penduduk :

1) Sosial: Urbanisasi penduduk tidak merata, angka kemiskinan dan kriminalitas meningkat sebagai akibat moralitas menurun.

2) Ekonomi : Kebutuhan akan pangan dan lahan sebagai tempat hunian serta industri meningkat sedangkan lahan yang tersedia semakin menurun/sedikit.

3) Bidang Pendidikan : Tingkat pendidikan menurun dan biaya pendidikan meningkat

4) Bidang Kesehatan : Akibat kualitas lingkungan menurun, penyakit merajalela, sehingga kualitas kesehatan masyarakat menurun.

5) Bidang lingkungan hidup :

a) Kerusakan ekosistem : Kerusakan hutan akibat ladang berpindah, kekurangan air, kekurangan oksigen, keterbatasan lahan, penebangan pohon secara liar.

b) Pencemaran dan polusi meningkat :

Sebagai akibat dari kerusakan ekosistem dan pertumbuhan industry serta penggunaan kendaraan semakin mengingkat, maka tingkat pencemaran dan polusi tak terkendali. Sehingga semakin banyak limbah industry dan rumah tangga serta asap kendaraan bermotor yang menyebabkan polusi air, tanah, dan udara.

c. Usaha untuk mengatasi ledakan penduduk:

1. Menurunkan laju pertumbuhan penduduk dengan menyelenggarakan progam KB.

2. Meningkatkan kualitas penduduk dengan cara :

a) Meningkatkan gizi balita.

b) Menunda perkawinan usia dini (muda).

c) Prinsip-Prinsip Ekologi Pendidikan (program pendidikan 9 tahun, menghapuskan buta huruf dll).

d) Meningkatka pencegahan, pengobatan dan penanggulangan penyakit pada ibu dan anak.

3. Meningkatkan lapangan pekerjaan dengan mengembangkan industry dan keterampilan masyakarat agar mandiri.

4. Mengimbangi laju pertambahan penduduk dengan meningkatkan produksi pangan, melalui program:

Ø Intensifikasi (peningkatan produksi pertanian melalui perbaikan cara bercocok tanam, hal ini dilakukan dilahan sempit/terbatas).

Ø Ektensifikasi (peningkatan produksi pertanian melalui perluasan lahan).

Ø Diversifikasi (penganekaragaman jenis makanan).

Ø Mencari sumber makanan baru.